BERITA TERKINI

Mahfudz Arifin Tetap Kampanye Pilwali Sesuai Prosedur Kemenkes RI

Posted by Media Sinar Pagi - suara aspirasi rakyat on Rabu, 17 Juni 2020

Sinarpagi.co.id |  Surabaya - Mahfudz Arifin (MA), mantan Kapolda Jatim dan sekaligus bakal calon wali kota Surabaya, terpaksa merubah pola interaksi ketemu dengan warga Surabaya.

Jubir MA, Gus Amik mengatakan protokol kesehatan diterapkan ketat sesuai imbauan Kemenkes RI, mulai dari kendaraan calon, ruangan kerja, posko, tempat pertemuan, hingga tim yang menyertai.

"Untuk masuk ke Posko MA saja di Jalan Basuki Rahmat, Kota Surabaya, harus melewati protokol kesehatan ketat. Mulai scan gun thermal, cuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak," tutur Gus Amik.

“Jangan sampai terkena kepada kita. Dan itu akan merugikan kita semua, makanya protokol kesehatan harus ketat kita lakukan,” ujarnya lagi.

Pola interaksi selain di rubah, ada pembatasan peserta jika terpaksa dilakukan pertemuan fisik. Sebab animo dan desakan masyarakat ketemu langsung memang sangat tinggi.

Sedangkan  pertemuan kita sterilkan semua, mulai dari kendaraan, peserta yang ikut, lokasi, dan pengiring.  Semua memakai masker dan diatur jaraknya, peserta dibatasi 10 orang perwakilan saja.

Masalah Surabaya Kompleks

Kata Muji, setiap kali sosialisasi dan interaksi dengan warga Kota Surabaya, segudang keluhan disampaikan kepada MA.

Diantaranya, soal surat ijo di Surabaya, persoalan Pasar Turi, Hi Tech, Taman Hiburan Rakyat (THR), persoalan kesehatan, data kemiskinan dan banyak lagi.

“Kalau masyarakat sih semua disampaikan. Kita telah rumuskan dan identifikasi  semua masalah di Kota Surabaya ini,” ujarnya.

Kata Muji, dengan begitu nanti baru disusun program kerja yang saat ini sedang dalam pembahasan oleh tim, baik akademisi, para peneliti, profesor dan tim penyusun untuk menghasilkan apa yang akan dilakukan Mahfud Arifin jika terpilih jadi Wali Kota Surabaya nantinya.

Lanjut Muji, secara umum Kota Surabaya telah baik dan maju. Namun persoalan di masyarakat Kota Surabaya sangat kompleks dan butuh penyelesaian.

Terutama kemiskinan Kota di Surabaya, datanya amburadul. Yang paling penting itu soal perekonomian di Pasar Turi, akan dibangun lagi.

“Delik hukum di Pasar Turi sedang dipelajari Pak Mahfud Arifin, karena beliau tahu betul saat menjadi Kapolda,” ujarnya, di Posko Jalan Basuki Rahmat Surabaya.

Yang banyak keluhan juga soal seniman, baik tradisional hingga milenial. Seni ludruk, ketoprak, keroncong, bahkan 300 band millenial tidak pernah mendapat perhatian dari Pemerintah Kota Surabaya.

Sekadar diketahui, Mahfud Arifin, telah mendapat rekomendasi dari 7 partai untuk maju menjadi Calon Wali Kota Surabaya di Pilkada serentak 2020.

Belum ditentukan Bakal Calon Wawalinya, namun kemungkinan besar hasil kompromi dari tokoh partai politik pengusungnya yakni, PKB, Gerindra,  NasDem, Demokrat, Golkar, PSI, dan PAN. Untuk PPP dan PKS, masih belum terbit rekomendasinya.

Sementara PDIP hingga saat ini belum juga memunculkan nama calon. Bahkan Cak MA sudah melaju sosialosasi meraih banyak simpati dan dukungan masyarakat Kota Surabaya.(Lin/red)

Blog, Updated at: Juni 17, 2020